MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA
PERKEMBANGAN KEBERAGAMAN INDIVIDU PADA USIA 5 TAHUN-12 TAHUN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syamsu Yusuf menyatakan perkembangan
diartikan sebagai perubahan progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam
diri individu dari mulai lahir sampai mati. Selanjutnya dinyatakan bahwa
perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju ke tingkat
kedewasaannya atau kematangannya (maturation)
berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik pada aspek
fisik (jasmaniah) maupun psikhis (rohaniah).[1]
Psikologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang jiwa. Manusia sebagai objek psikologi memiliki
kebutuhan baik jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi untuk mencapai
kebahagiaan dalam hidupnya.
Dalam tingkat urgensitas kebutuhan
inilah manusia tidak akan mampu terlepas dari kodrat, yaitu kodrat bahwa
manusia membutuhkan Tuhan atau dalam bahasa sederhana manusia membutuhkan agama
atau kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan.
Atas dasar kodrat inilah manusia akan memahami esensi kehidupan yang
sesungguhnya tentang siapa, dari mana sekaligus untuk apa mereka diciptakan.
Dasar nilai - nilai agama ditanamkan
pada anak - anak pada masa sekolah dengan tahapan sesuai dengan usia
dan untuk menerima kenyataan akan hal-hal yang tidak selamanya rasional .
Ajaran agama dengan pola fisik maupun psikis anak-anak di usia sekolah
dasarmenunjukkan peran penting psikologi yang menjadikannya berkaitan erat
dengan agama. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya
yang semakin berkembang.[2]
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka pemakalah dapat menjabarkan beberapa permasalahan yang diuraikan sebagai
berikut
1. Bagaimana
penjelasan anak dalam pandangan Al- qur’an dan hadits?
2. Bagaimana
proses perkembangan individu pada usia 0 - 4 tahun?
3. Bagaimana
proses perkembangan individu pada usia 5-12 tahun?
4. Apa
sajakah perbedaan perkembangan keberagamaan individu pada usia
0-4 tahun dan pada usia
5-12 tahun?
5. Bagaimanakah
tingkat kesulitan dalam memahami perkembangan individu
0 -12 tahun?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan penulisan dari permasalahan diatas adalah sebagai berikut:
1. Agar
kita dapat mengetahui dan memahami tentang penjelasan anak dalam pandangan Al-
qur’an dan hadits?
2. Agar
kita dapat mengetahui dan memahami tentang proses perkembangan individu pada
usia 0 - 4 tahun?
3. Agar
kita dapat mengetahui dan memahami tentang proses perkembangan individu pada
usia 5-12 tahun?
4. Agar
kita dapat megetahui dan memahami tentang perbedaan perkembangan keberagamaan
individu pada usia
0 - 4 tahun dan pada
usia 5-12 tahun?
5. Agar
kita dapat mengetahui dan memahami tentang tingkat kesulitan dalam memahami
perkembangan individu
0 - 12 tahun?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anak Dalam Pandangan Al- qur’an dan
Hadits
1.
Pengertian Anak
Menurut Muhammad
Dimas pengertian anak baik secara umum maupun menurut para ahli mempunyai makna
yaitu sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga, didik sebagai
bekal sumber daya.[3]
Anak merupakan
harta yang tidak senilai harganya. Seorang anak hadir sebagai amanah yang
dititipkan oleh Allah SWT, untuk dirawat, dijaga, dan didik, agar kelak setiap
orangtua akan diminta pertanggung jawaban atas sifat dan perilaku anak semasa
muda didunia. Secara harfiah anak adalah seorang cikal bakal yang kelak akan
meneruskan generasi keluarga, bangsa dan negara. Anak juga merupakan sebuah
asset sumber daya manusia yang kelak dapat membantu dalam membangun negara dan
bangsa.[4]
Namun beberapa
ahli memiliki pendapat lain mengenai pengertian seorang anak, pengertian anak
menurut para ahli tersebut diantaraya:
1. Suryana
Menurut beliau seorang
anak merupakan sebuah rahmat serta anugerah yang diberikan oleh Allah SWT
sebagai penguji keimanan, sebuah media beramal yang menjadi bekal diakhirat,
tempat bergantung ketika usia senja, dan mahluk yang wajib didik.[5]
2. Nurhayati
Puji Astuti
Menurut beliau seorang
anak adalah buah hati tercinta dimana kelak orangtua menaruh harapan pada sang
anak ketika orangtua telah lanjut usia.
Anak merupakan
sebuah titipan yang harus dijaga dan di didik. Ketika anak lahir orangtua wajib
memberikan pendidikan baik agama maupun dunia kepada anaknya dari usia dini.
Hal ini merupakan bekal anak ketika dewasa kelak telah memiliki pegangan hidup
dari arahan orang tuanya.
Dengan demikian
pengertian anak baik secara umum maupun menurut pendapat para ahli, ketika anak beranjak
dewasa, dan orangtua tidak mampu maka anak merupakan harapan orangtua untuk bertumpu . Seorang anak yang tidak memperhatikan orangtuanya kelak ketika dewasa
bisa dikatakan anak yang durhaka.
Karena kasih sayang orangtua tidak mampu terbayarkan oleh anak.
2.
Anak Dalam Pandangan Alqur’an dan
Hadits
Ada beberapa
istilah yang sering digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada pengertian
“anak”, antara lain kata “al-walad”
atau “al-aulad” (seperti yang
tercantum dalam QS.al-Balad: 3,
QS.at-Taghabun: 15, QS. Al-Anfal: 28 dan QS at-Taghabun: 14), “al-ibnu” atau “al-banun” (seperti yang tercantum
dalam QS. Luqman: 13, QS. Al- Kahfi: 46, QS. Ali Imron: 14, “al-ghulam” seperti yang tercantum dalam
QS. Maryam: 7, QS. As- Shaffat: 101, yang akan dijabarkan sebagai berikut[6]
1.
QS. Al – Balad : 3
وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
Artinya : Dan demi
bapak dan anaknya (QS. Al – Balad : 3)[7]
2.
QS At Taghabun : 15
Artinya: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan bagimu): di sisi Allah-lah pahala
yang besar
QS.At
- Taghabun:15)[8]
3.
QS Al – Anfal : 28

Artinya: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu
itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang
besar. (QS. Al - Anfal: 28)[9]
4.
QS At - Taghabun : 14

Artinya: Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di
antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi
serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. At - Taghabun : 14)[10]
5.
QS Al - Lukman : 13

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Al lukman : 13)[11]
6.
QS Al – Kahfi : 46

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al -
Kahfi : 46)[12]
7.
QS Al – Imran :14

Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga). (Q,S Al – Imran : 14)[13]
8.
QS Maryam : 7

Artinya: Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar
gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang
sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. (QS.
Maryam : 7 )[14]
9.
QS Ash - Shafaat : 101
Artinya: Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat
sabar. (QS. Ash – Shafaat : 101)[15]
Demikian pula
dalam hadits-hadits Nabi, istilah al-walad,
al-aulad, al-maulud, al-ibnu, al-banin, dan al-ghulam sering digunakan untuk memberikan pengertian anak ini,
disamping kadang-kadang juga menggunakan istilah lain seperti “at-thiflu”. Dalam sebuah hadits
riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Saw, bersabda:“Anak-anak itu bagaikan kupu-kupu
surga”.
Adanya ayat-ayat
al-Qur‘an dan al-Hadits yang berbicara tentang anak seperti di atas, dan
sebenarnya masih banyak lagi dalam ayat atau hadits Nabi yang lain, menunjukkan
betapa perhatian Islam terhadap anak. Atau dengan perkataan lain, Islam
memandang bahwa anak memiliki kedudukan atau fungsi yang sangat penting, baik
untuk orang tuanya sendiri, masyarakat maupun bangsa secara keseluruhan.
Dikisahkan dalam Al-Qur‘an (QS. Maryam: 4-6) tentang kegelisahan Nabi Zakaria,


Artinya: Ia
berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah
ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya
Tuhanku (4) Dan sesungguhnya aku
khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang
mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, (5) yang akan
mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya
Tuhanku, seorang yang diridhai". (6)
Zakaria mengadu
pada Tuhannya: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah
dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya
Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang
istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau
seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan
jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. Dari doa Zakaria ini
tergambar dengan tegas bahwa salah satu fungsi dan kedudukan anak bagi
orangtuanya adalah sebagai pewaris, bukan hanya pewaris dalam bidang harta
benda saja, tetapi yang lebih penting adalah juga sebagai pewaris dalam
perjuangan.
Zakaria sangat gelisah bahwa sepeninggal dia
kelak, tidak didapati orang yang bisa dipercaya untuk melanjutkan misi
perjuangannya Untuk itulah tiada henti-hentinya, siang maupun malam, pagi
maupun petang, Zakaria terus berdo’a untuk dikarunia anak Apa yang dialami
Zakaria, ternyata dialami pula oleh Ibrahim a s. Hal ini bisa dibaca dalam QS.
as-Shaffat: 100, yang berbunyi
Artinya: Ya
Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang
saleh. (QS. Ash – Shafaat : 100)[17]
Surah ini
mengisahkan tentang doa Ibrahim agar ia
dianugerahi seorang anak. Kalau Zakaria akhirnya dikabulkan Allah dengan
dikarunia Yahya, Ibrahimpun dikabulkan Allah dengan dikarunia
Ismail.Kedua-duanya, baik Yahya maupun Ismail, dikemudian hari berfungsi
sebagai penerus perjuangan ayahnya, kedua-duanya menjadi Nabi utusan Allah. Apa
yang menjadi harapan Zakaria dan Ibrahim ini ternyata juga menjadi harapan
semua orangtua. Karena memang begitulah yang dinashkan dalam al-Qur’an, bahwa
salah satu fitrah manusia, adalah adanya rasa kecintaan dan kerinduan kepada
anak.Firman Allah dalam
QS. Ali Imran: 14, yang berbunyi

Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga). (Q,S Al – Imran : 14)[18]
“Dijadikan indah
pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu pada
wanita-wanita, anak- anak,...” Dalam ayat yang lain, yaitu QS.Al-Furqan: 74,
yang berbunyi :

Artinya: Dan
orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ( QS. Al – Furqan : 74)[19]
Allah melukiskan bahwa anak keturunan itu
sebagai “qurrata a’yun”
(penyejuk hati), sedang dalam ayat yang lain lagi
(QS.Al-Kahfi:
46) yang berbunyi :

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al -
Kahfi : 46)[20]
Pada surah ini digambarkan sebagai “zinatul hayatiddunya” (perhiasan
hidup). Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, apa yang dinashkan oleh Al-Quran
ini memang benar adanya. Setiap orangtua, betapapun kaya dan tinggi jabatannya,
rasanya belum lengkaphidupnya bila belum dikaruniai anak.Hidupnya terasa
hambar, sunyi, sepi dan tidak bermakna.Akhirnya, iapun rela berkorban harta
untuk periksa keberbagai dokter ahli kandungan, atau bahkan ke dukun-dukun,
hanya sekedar untuk memperoleh anak. Disamping itu, peran anak dalam ajaran
Islam juga sebagai amal orang tua yang pahalanya tiada putus-putus dan tetap
akan mengalir walaupun orangtuanya telah meninggal dunia. Hal ini sebagaimana
ditegaskan oleh Rasulullah Saw.dalam sabdanya:

“Apabila manusia
mati, maka putuslah amalnya kecuali dari 3 perkara, yaitu dari shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR Bukhari-Muslim) [21]
Dari hadits di
atas, kedudukan anak disamping sebagai pelanjut perjuangan orangtua, pelestari
keturunan dan sebagainya, tetapi juga sekaligus sebagai investasi amal bagi
orangtuanya yang pahalanya terus menerus tiada henti.Itulah barangkali yang
menyebabkan Allah menyebut peristiwa kelahiran anak itu sebagai sesuatu yang
menggembirakan.
Dalam QS.Maryam.
7 Allah SWT berfmnan:“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira
kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami
belum pemah menciptakan orang yang serupa dengan dia”
B. Proses Perkembangan Individu ( anak
) pada usia 0 – 4 tahun
Menurut Ramayulis, Secara fisik, perkembangan fisik anak selalu
berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi ank-anak, adapun
perkembangan fisik anak pada usia 0 – 4 tahun akan dijabarkan sebagai berikut:[22]
1) Proses perkembangan fisik anak pada usia 0-1 tahun. Proses
perkembangan usia 0-1 tahun, yaitu (a) meraih benda, (b) bertepuk tangan, dan
(c) berjalan sambil berpegangan pada meja.
2) Proses
perkembangan fisik anak pada usia 1-2 tahun. Proses perkembangan
usia 0-1 tahun,yaitu (a) berjalan tanpa bantuan, (b) mulai berlari, (c)
melambaikan tangan, dan (d) menendan bola.
3) Proses perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun. Proses
perkembangan usia 2-3 tahun, yaitu (a) memanjat, (b) megang pensil seperti
menulis, dan (c) mengayuh sepeda roda tiga.
4) Proses perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun. Proses
perkembangan usia 3-4 tahun, yaitu dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki,
dan gigi susu sudah lengkap.
C. Proses Perkembangan Individu ( anak
) pada usia 5 - 12 tahun
Menurut Zakiyah Drajat, Perkembangan fisik pada anak usia 5-12 tahun sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang menyertainya seperti faktor genetik, faktor
kesehatan, hingga faktor asupan makanannya. Maka, tidak salah jika setiap anak dengan
umum yang sama memiliki perkembangan fisik yang berbeda.[23]
Kondisi pertumbuhan dan perkembangan secara fisik terbagi
dalam beberapa fase yaitu pada usia 0-3 tahun dimana pada masa ini akan secara
fisik terlihat pendek dan gemuk, pada usia 3-7 tahun fisik anak terlihat lebih
langsing dan mulai meninggi, namun pada usia 7-13 tahun anak akan mengalami
gemuk kembali.
Secara fungsi fisik anak pada
usia 1-3 tahun memusatkan dorongan dan tahanan pada alat pembuahan kotoran,
pada usia 3-5 tahun alat kelamin pada anak menjadi organ tubuh yang paling
perasa, sedangkan pada usia 5-12 tahun impuls-impuls yang dimiliki anak
cenderung dalam kondisi tertekan.
Perkembangan fisik anak usia 5-12 tahun dari tahun ke tahun
memiliki perbedaan yang signifikan, apalagi ketika anak sudah memasuki
baliqhnya di usia 8 tahun. Maka, fisik semakin berubah. Jika anak 5 tahun masih
memiliki tubuh langsing nyaris lurus seperti papan, di usianya yang meningkat
besar akan terjadi perubahan di sekitar payudara dan pinggulnya. Untuk anak
laki-laki berusia 12 tahun mulai terlihat calon jakun di tenggorokannya.
Perkembangan fisik anak harus terus Anda pantau dan dampingi
agar bisa berkembang secara optimal. Beberapa hal yang bisa Anda berikan pada
anak untuk tumbuh kembang fisiknya adalah dengan memberikan makanan bergizi
seperti buah
dan sayur serta daging yang
tidak membuatnya berlemak. Anda juga bisa mulai mengajarkan anak beraktifitas
aktif untuk mendukung peningkatan fisiknya, misalnya dengan berenang agar
tumbuhnya cepat tinggi, bisa juga bermain basket, atau Anda juga melatih anak
karate agar ketahanan dan kekuatan fisiknya terjaga.
D. Perbedaan Perkembangan Keberagamaan
Individu Pada Usia 0 – 4 tahun dan 5 – 12 tahun
1.
Anak Pada Usia 0 – 12 tahun
umur 0-4 atau 5 tahun masa
kanak-kanak (infancy), tahap ini di dominasi oleh perasaan
senang(pleasure) dan tidak senang (pain) dan menggambarkan tahap evolusi yaitu
masa manusia masih sama dengan binatang. Umur 5-12 tahun, tahap ini
mencerminkan era manusia liar, manusia pengembara dalam evolusi manusia,
perasaan-perasaan yang dominan dalam periode ini adalah ingin main-main,
lari-lari, loncat-loncat dan sebagainya. Yang pada intinya untuk melatih
ketajaman indera dan ketrampilan anggota tubuhnya. [24]
2.
Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada
Anak
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-
kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara
acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan
tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian
terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman
yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang
menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya
yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas,
maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. Perasaan si anak
terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks.[25]
Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling
bertentangan.
Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan
ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi
meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan
butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga,
butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak
terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang
kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai
dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan
bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut
dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal
sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas)
perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan
hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.[26]
3.
Tahap Perkembangan Keberagamaan Pada
Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama
pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1. The Fairly Tale Stage (Tingkat
Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep
mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam
menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh
dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan
seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka
agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan
dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan
caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan
ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi
penuh arti teologis.
2.
The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak
beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya
terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau
logika. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak
pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga
wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada
usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.
The Individual Stage (Tingkat Individu)
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama
sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan
untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini
dikenal dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih
keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi
bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan
tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan berkembang secara benar.[27] Pada
tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan
perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi
menjadi tiga golongan:
a. Konsep ketuhanan yang konvensional
dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
b. Konsep ketuhanan yang lebih
murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat
personal (perorangan).
c. Konsep ketuhanan yang bersifat
humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam
menghayati ajaran agama. Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase
perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
a. Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah
sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu
dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi,
tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
b. Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan
agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan
dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
c.
Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk
menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia
luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang
disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan-
ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa
kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman
dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam
memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama
sekalipun sifatnya hanya meniru.
d.
Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek-
aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang
semakin realistis.Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang
semakin berkembang.[28]
4.
Sifat Agama Pada Anak
Sifat agama pada anak-anak tumbuh
megikuti pola ideas konsep on outbrority. Ide keagamaan pada anak hampir
sepenuhnya autoritarius maksudnya, konsep keagamaan pada diri mereka
dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Mereka telah melihat dan
mengikuti apa yang diajarkan oleh orang dewasa dan orang tua mereka tentang
sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ketaatan pada ajaran agama merupakan
kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari para orang tua
maupun guru mereka. Berdasarkan hal itu maka bentuk dan sifat agama pada diri
anak dapat dibagi atas:
a. Unreflective
(kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak
begitu mendalam, cukup sekadarnya saja, dan mereka merasa puas dengan
keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Menurut peneilitian, pikiran
kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan
perkembangan moral. Diusia ini pun anak yang kurang cerdas pun menunjukkan
pemikiran yang kreatif. Namun demikian, sebelum usia 12 tahun pada anak yang
mempunyai ketajaman berpikir akan menimbang pemikiran yang mereka terima dari
orang lain.
b. Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil
penelitian piaget tentang bahasa pada anak berusia 3-7 tahun. Dalam hal ini,
berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Bagi anak,
bahasa tidaklah menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan “monolog” dan
“monolog kolektif”, yaitu merupakan bahasa egosentris, bukan sebagai sarana
untuk mengomunikasikan gagasan dan informasi, lebih-lebih merupakan pernyataan
atau penegasan diri dihadapan orang lain.
c. Anthromorphis
Konsep anak
mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia
berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai “bagaimana” dan
“mengapa” biasanya mencermikan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan
religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif
dan konkret.
d. Verbalis dan
ritualis
Kehidupan agama
pada anak sebagian besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka
menghafal secara verbal kalimat keagamaan, selain itu pula dari amaliah yang
mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada
mereka.
e. Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda
dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Maka rasa kagum pada anak ini
belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriyah
saja. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan
rasa takjub.[29]
E. Tingkat Kesulitan Memahami
Perkembangan individu pada usia 0 – 12 Tahun.
Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, ada pola
perkembangan yang bersifat umum dan ada yang bersifat individual. Pola
perkembangan yang bersifat umum didasarkan atas hasil generalisasi pola
perkembanan manusia pada umumnya. Pola perkembangan ini sangat besar manfaatnya
bagi upaya penyusunan kurikulum sekolah bagi anak normal atau anak pada
umumnya. Pola perkembangan individual berbeda-beda antara anak yang satu dengan
anak lainnya. Pola perkembangan individual sanat bermanfaat bagi upaya
penyusunan program pendidikan yang sesuai dengan laju perkembangan tiap anak. [30]
Pola perkembangan umum atau pola perkembangan anak normal
dapat dijadikan dasar untuk menentukan anak berkesulitan belajar. Ditinjau dari
aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar disebabkan oleh faktor
kematangan. Bertolak dari pandangan semacam itu, mempercepat atau menghambat
proses perkembangan dapat menimbulkan masalah belajar. Lingkungan sosial yang
berupaya mempercepat proses perkembangan anak dapat menimbulkan kesulitan belajar,
begitu pula dengan lingkungan sosial yang tidak memberikan stimulasi terhadap
suatu fungsi yang telah matang untuk berkembang.
Bertolak dari aspek psikologi perkembangan, ada dua konsep
yang perlu diperhatikan, yaitu kelambatan kematangan dan tahapan-tahapan
perkembangan. Berdasarkan dua konsep tersebut, maka perlu dipahami implikasinya
bagi upaya penanggulangan kesulitan belajar.
a. Kelambatan Kematangan
Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan
belajar dapat dipandang sebagai kelambatan kematangan fungsi neurologis
tertentu. Menurut pandangan ini, tiap individu memiliki laju perkembangan yang
berbeda-beda, baik dalam fungsi motorik, konitif, maupun efektif. Oleh karena
itu, anak yang memperlihatkan gejala kesulitan belajar tidak selayaknya
dipandang sebagai memiliki disfungsi neurologis tetapi sebagai perbedaan laju
perkembangan berbagai fungsi tersebut. Konsep keterlambatan kematangan
mengantarkan pada suatu pandangan bahwa banyak kesulitan belajar tercipta
karena anak didorong atau dipaksa oleh lingkungan sosial untuk mencapai kinerja
akademik sebelum mereka siap untuk itu. Menurut Lerner pandangan keterlambatan
kematangan didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Silver dan Hagin.[31]
Hasil penelitian terhadap anak-anak yang diagnosis
berkesulitan belajar membaca dan memperoleh pelayanan pendidikan khusus,
beberapa tahun kemudian, setelah mereka berusia 16 hingga 24 tahun, banyak
diantara mereka yang tidak memperlihatkan kesulitan dalam orientasi ruang,
dalam membedakan bunyi-bunyi, dan dalam membedakan kiri-kanan, meskipun pada
masa kanak-kanak mereka memperlihatkan adanya problema-problema tersebut.
Melalui proses pematangan, beberapa dari berbagai problema tersebut
menghilang, tetapi ada pula yang masih menetap.
Konsep kematangan mengemukakan bahwa penyebab utama
kesulitan belajar adalah ketidakmatangan. Implikasi dari teori ini adalah bahwa
anak-anak yang lebih muda dan kurang matang dalam suatu tingkat kelas di
sekolah akan cenderung mengalami kesulitan belajar yang lebih berat daripada
anak-anak yang lebih tua di kelas tersebut.
b. Tahapan-tahapan Perkembangan
Tahapan-tahapan perkembangan yang paling erat kaitannya
dengan kesulitan belajar disekolah adalah tahapan-tahapan perkembangan
kognitif. Piaget, sebagai tokoh peneliti perkembangan kognitif sesungguhnya
tidak mengemukakan berdasarkan umur. Penahapan perkembangan kognitif yang
didasarkan atas umur dilakukan oleh Ginsburg dan Opper dalam Dirgagunarsa,
1981; 123).[32]
Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif tersebut adalah (1) tahap sensorimotor
(usia 0-2 tahun) (2) tahap praoperasional (usia 2-7 tahun) (3) tahap
konkrit-operasional (usia 7-11 tahun) dan (4) tahap formal-operasional (usia 11
atai lebih).
Secara ringkas, pandangan kematangan didasarkan atas
anggapan bahwasemua individu memiliki tahapan-tahapan perkembangan yang alami
dan waktu kematangan berbagai keterampilan. Problema belajar pada anak mungkin
hanya merupakan suatu keterlambatan dalam perkembangan dari proses tertentu.
Ini merupakan hal yang pentin bagi orang yang bertanggungjawab menyediakan
lingkungan pendidikan bagi anak untuk menyadari tahapan-tahapan kematangan dan
kelambatan-kelambatan kematangan yang mungkin muncul.
c. Implikasi
Teori Perkembangan bagi Kesulitan Belajar
Suatu
implikasi penting dari pendekatan perkembangan kematangan adalah sekolah
hendaknya merancang pengalaman belajar untuk mempertinggi kemantapan
perkembangan alami. Dalam beberapa hal, lingkungan pendidikan mungkin lebih
banyak menghalangi daripada membantu perkembangan anak. Jika sekolah membuat
tuntutan intelektual yang melebihi tahapan perkembangan anak, kesulitan belajar
mungkin akan terjadi. Tujuan penting dari sekolah seharusnya adalah untuk
memperkuat landasan berpikir anak yang dapat menjadi landasan belajar
berikutnya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia dilahirkan dalam keadaan
lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah
memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan
pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada
usia dini.
Melalui penelitian Ernest Harms perkembangan agama
anak-anak itu melalui mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak
itu melalui tiga tingkatan, yaitu: (1) The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng), (2) The
Ralistic Stage (tingkat
kepercayaan), (3) The individual Stage (tingkat individu)
Adapun faktor yang membentuk anak mulai mengenal dan
mendalami agama tak terlepas dari faktor-faktor berikut yaitu : (a) Faktor
intern (bawaan)dan (b) Faktor lingkungan
(external) yang keduanya meliputi (1) Lingkungan keluarga (2) Lingkungan
sekolah, dan (3) Lingkungan masyarakat.
Adapun Sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas, (1) Unreflective (tidak mendalam) (2) Egosentris (3) Anthromorphis (4) Verbalis dan Herbalis , dan (5) Rasa
heran
DAFTAR
PUSTAKA
AlQur’an dan Terjemahnya.2013 Jakarta
: CV Karya Insan Indonesia.
Dimas,
Muhammad. 2005.Cara Mempengaruhi Jiwa dan
Akal Anak. Jakarta: Pustaka
Dirgagunarsa.
1981.Teori Konstruktivis, Jakarta: PT
Grafindo Persada, 1981.
Drajat,Djakiyah
.2002.Perkembangan Fisik, Intelektual,
dan Budi Pekerti, Jakarta: Balai Pustaka.
Hawadi,
Rahmad. 2002. Psikologi Perkembangan Pada
Anak, Jakarta: Gema Pustaka.
IbnuHa jar Al - Asqalani,1995. Bulughul Maram, Terj. Mahrus Ali,Surabaya:Mutiara Ilmu
Jalaludin.
2009. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam
Mulia.
Learner,
1998. Learning Disabilities : Theoris, Diagnosis, and
Teaching Strategies. New Jersery: Houghton, Mifflin Company.
Maramis.2004. Ilmu
Kedoteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Nasih,
Abdullah.1985. Tarbiyatul Auladfil Islam, Beirut: Darussalam.
Prayudha,
Dimas.1997Psikologi Perkembangan Anak,
Bandung: Pustaka Setia.
Ramayul.
2005. Aspek – Aspek Perkembangan Individu,
Jakarta :Grafindo Persada.
Ramayulis.
1994. Pendidikan Agama Bagi Anak.
Jakarta: Al – Abrasyi.
Ramayulis.
2004. Psikologi Agama,Jakarta: Kalam
Mulia.
Sururin,
2004.Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : PT
Grafindo Jaya.
Suryan.
2004. Psikologi Perkembangan Pada Anak.
Jakarta : Progras.
Yusuf,
Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja, Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
[1]Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,(Bandung:PT
Remaja Rosdakarya,2004), hlm.65.
[3]Muhammad Dimas,Cara Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak.
(Jakarta: Pustaka Al – Kautsar, 2005),hlm.37.
[4]Ramayulis,Pendidikan Agama Bagi Anak. (Jakarta: Al – Abrasyi,1994), hlm.84.
[5]Suryana,Psikologi Perkembangan Pada Anak. (Jakarta : Progras,2004)hlm.136.
[21]Ibnu Hajar Al- Asqalani, Bulughul Maram, Terj. MahrusAli,(Surabaya:Mutiara
Ilmu,1995),
hlm.443
[22]Ramayulis,Aspek – Aspek Perkembangan Individu, (Jakarta :Grafindo Persada,
2005),hlm.29.
[23]Zakiyah Drajat,Perkembangan Fisik, Intelektual, dan Budi
Pekerti, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm.64.
[24]Rahmad Hawadi,Psikologi Perkembangan Pada Anak,
(Jakarta: Gema Pustaka, 2002), hlm.54.
[25]Ramayulis, Psikologi Agama,(Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hlm.34.
[26]Zakiyah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1993),hlm.6.
[27]Jalaludin. Psikologi Agama. (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm.66 – 69.
[28]Maramis,Ilmu Kedokteran Jiwa (Surabaya: Airlangga University Press, 1980),
hlm. 22 – 23.
[29]Sururin,Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : PT Grafindo Jaya, 2004), hlm.58 – 61.
[30]Dimas Prayudha, Psikologi Perkembangan Anak, (Bandung:
Pustaka Setia, 1997), hlm.92.
[31]Learner,Learning Disabilities : Theoris,
Diagnosis, and Teaching Strategies. (New Jersery: Houghton, Mifflin
Company, 1998), hlm.169.
[32]Dirgagunarsa,Teori Konstruktivis, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1981), hlm.123.
The Sands Casino Hotel - SSEPTCasino.com
ReplyDeleteThe Sands Casino Hotel 샌즈카지노 is หารายได้เสริม a 5-star accommodation featuring more than 800 guest rooms and suites. The resort features two 온카지노 retail areas, restaurants
The best online casinos of 2021
ReplyDeleteRead our exclusive guide to the best casinos that accept players from 카지노사이트luckclub Ireland, including their bonuses and free spins offers. Rating: 9/10 · Review by LuckyClub
Pokies at Pokies - The Pro-Am Casino
ReplyDeletePokies at Pokies is a casino in New Zealand. It's known 포커 칩 for its 배당 토토 high 드래곤타이거 standards, excellent customer 사다리사이트 service and excellent customer service. winwin 토토