Friday, March 3, 2017


MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA

PERKEMBANGAN KEBERAGAMAN INDIVIDU  PADA USIA 5 TAHUN-12 TAHUN


  
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Syamsu Yusuf menyatakan perkembangan diartikan sebagai perubahan progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Selanjutnya dinyatakan bahwa perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju ke tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik pada aspek fisik (jasmaniah) maupun psikhis (rohaniah).[1]
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Manusia sebagai objek psikologi memiliki kebutuhan baik jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.
Dalam tingkat urgensitas kebutuhan inilah manusia tidak akan mampu terlepas dari kodrat, yaitu kodrat bahwa manusia membutuhkan Tuhan atau dalam bahasa sederhana manusia membutuhkan agama atau kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan. Atas dasar kodrat inilah manusia akan memahami esensi kehidupan yang sesungguhnya tentang siapa, dari mana sekaligus untuk apa mereka diciptakan.  
Dasar nilai - nilai agama ditanamkan pada anak - anak pada masa sekolah dengan tahapan sesuai dengan usia dan untuk menerima kenyataan akan hal-hal yang tidak selamanya rasional . Ajaran agama dengan pola fisik maupun psikis anak-anak di usia sekolah dasarmenunjukkan peran penting psikologi yang menjadikannya berkaitan erat dengan agama. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[2]




B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka pemakalah dapat menjabarkan  beberapa permasalahan yang diuraikan sebagai berikut
1.    Bagaimana penjelasan anak dalam pandangan Al- qur’an dan hadits?
2.    Bagaimana proses perkembangan individu pada usia 0 - 4 tahun?
3.    Bagaimana proses perkembangan individu pada usia 5-12 tahun?
4.    Apa sajakah perbedaan perkembangan keberagamaan individu pada usia
0-4 tahun dan pada usia 5-12 tahun?
5.    Bagaimanakah tingkat kesulitan dalam memahami perkembangan individu
0 -12 tahun?

C.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari permasalahan diatas adalah sebagai berikut:
1.    Agar kita dapat mengetahui dan memahami tentang penjelasan anak dalam pandangan Al- qur’an dan hadits?
2.    Agar kita dapat mengetahui dan memahami tentang proses perkembangan individu pada usia 0 - 4 tahun?
3.    Agar kita dapat mengetahui dan memahami tentang proses perkembangan individu pada usia 5-12 tahun?
4.    Agar kita dapat megetahui dan memahami tentang perbedaan perkembangan keberagamaan individu pada usia
0 - 4 tahun dan pada usia 5-12 tahun?
5.    Agar kita dapat mengetahui dan memahami tentang tingkat kesulitan dalam memahami perkembangan individu
 0 - 12 tahun?





BAB II
PEMBAHASAN

A.  Anak Dalam Pandangan Al- qur’an dan Hadits
1.    Pengertian Anak
Menurut Muhammad Dimas pengertian anak baik secara umum maupun menurut para ahli mempunyai makna yaitu sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga, didik sebagai bekal sumber daya.[3]
Anak merupakan harta yang tidak senilai harganya. Seorang anak hadir sebagai amanah yang dititipkan oleh Allah SWT, untuk dirawat, dijaga, dan didik, agar kelak setiap orangtua akan diminta pertanggung jawaban atas sifat dan perilaku anak semasa muda didunia. Secara harfiah anak adalah seorang cikal bakal yang kelak akan meneruskan generasi keluarga, bangsa dan negara. Anak juga merupakan sebuah asset sumber daya manusia yang kelak dapat membantu dalam membangun negara dan bangsa.[4]
Namun beberapa ahli memiliki pendapat lain mengenai pengertian seorang anak, pengertian anak menurut para ahli tersebut diantaraya:

1.    Suryana
Menurut beliau seorang anak merupakan sebuah rahmat serta anugerah yang diberikan oleh Allah SWT sebagai penguji keimanan, sebuah media beramal yang menjadi bekal diakhirat, tempat bergantung ketika usia senja, dan mahluk yang wajib didik.[5]

2.    Nurhayati Puji Astuti
Menurut beliau seorang anak adalah buah hati tercinta dimana kelak orangtua menaruh harapan pada sang anak ketika orangtua telah lanjut usia.
Anak merupakan sebuah titipan yang harus dijaga dan di didik. Ketika anak lahir orangtua wajib memberikan pendidikan baik agama maupun dunia kepada anaknya dari usia dini. Hal ini merupakan bekal anak ketika dewasa kelak telah memiliki pegangan hidup dari arahan orang tuanya.

Dengan demikian pengertian  anak baik secara umum  maupun menurut  pendapat para ahli, ketika anak beranjak dewasa, dan orangtua tidak mampu maka anak merupakan harapan  orangtua untuk bertumpu . Seorang anak  yang tidak memperhatikan  orangtuanya kelak  ketika dewasa  bisa dikatakan  anak yang durhaka. Karena kasih sayang  orangtua tidak  mampu terbayarkan oleh anak.
 
2.    Anak Dalam Pandangan Alqur’an dan Hadits
Ada beberapa istilah yang sering digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada pengertian “anak”, antara lain kata “al-walad” atau “al-aulad” (seperti yang tercantum dalam QS.al-Balad:  3, QS.at-Taghabun: 15, QS. Al-Anfal: 28 dan QS at-Taghabun: 14), “al-ibnu” atau “al-banun” (seperti yang tercantum dalam QS. Luqman: 13, QS. Al- Kahfi: 46, QS. Ali Imron: 14, “al-ghulam” seperti yang tercantum dalam QS. Maryam: 7, QS. As- Shaffat: 101, yang akan dijabarkan sebagai berikut[6]
1.    QS. Al – Balad : 3
وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
Artinya :  Dan demi bapak dan anaknya (QS. Al – Balad : 3)[7]

2.    QS At Taghabun : 15
Description: Hasil gambar untuk image surat at taghabun  ayat 15
Artinya:   Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan  bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar
                QS.At - Taghabun:15)[8]
3.    QS Al – Anfal : 28
Description: Hasil gambar untuk image surat al anfal 28
Artinya:   Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al - Anfal: 28)[9]

4.    QS At - Taghabun : 14
Description: Hasil gambar untuk image surat at taghabun ayat 14
Artinya:   Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At - Taghabun : 14)[10]

5.    QS Al - Lukman : 13
Description: Hasil gambar untuk image surat al luqman ayat 13
Artinya:   Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".                  (QS. Al lukman : 13)[11]


6.    QS Al – Kahfi : 46
Description: Hasil gambar untuk image surat al kahfi 46
Artinya:   Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al - Kahfi : 46)[12]


7.    QS Al – Imran :14
Description: Hasil gambar untuk image surat alimran 14
Artinya:   Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q,S Al – Imran : 14)[13]




8.    QS Maryam : 7
Description: Hasil gambar untuk image surat maryam ayat 7

Artinya:   Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. (QS. Maryam : 7 )[14]

9.    QS Ash - Shafaat : 101
Description: Hasil gambar untuk image surat ash shaffat 101

Artinya:   Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. Ash – Shafaat : 101)[15]

Demikian pula dalam hadits-hadits Nabi, istilah al-walad, al-aulad, al-maulud, al-ibnu, al-banin, dan al-ghulam sering digunakan untuk memberikan pengertian anak ini, disamping kadang-kadang juga menggunakan istilah lain seperti “at-thiflu”. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Saw, bersabda:“Anak-anak itu bagaikan kupu-kupu surga”.
Adanya ayat-ayat al-Qur‘an dan al-Hadits yang berbicara tentang anak seperti di atas, dan sebenarnya masih banyak lagi dalam ayat atau hadits Nabi yang lain, menunjukkan betapa perhatian Islam terhadap anak. Atau dengan perkataan lain, Islam memandang bahwa anak memiliki kedudukan atau fungsi yang sangat penting, baik untuk orang tuanya sendiri, masyarakat maupun bangsa secara keseluruhan. Dikisahkan dalam Al-Qur‘an (QS. Maryam: 4-6) tentang kegelisahan Nabi Zakaria,

Description: Hasil gambar untuk image surat maryam ayat 4 - 6
Description: Hasil gambar untuk image surat maryam ayat 4 - 6
Description: D:\BUKU LESS BINA LESTARI\surat maryam ayat 6.png


Artinya:   Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku (4)     Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, (5) yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (6)
                 (QS. Maryam : 4 – 6)[16]

Zakaria mengadu pada Tuhannya: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. Dari doa Zakaria ini tergambar dengan tegas bahwa salah satu fungsi dan kedudukan anak bagi orangtuanya adalah sebagai pewaris, bukan hanya pewaris dalam bidang harta benda saja, tetapi yang lebih penting adalah juga sebagai pewaris dalam perjuangan.
 Zakaria sangat gelisah bahwa sepeninggal dia kelak, tidak didapati orang yang bisa dipercaya untuk melanjutkan misi perjuangannya Untuk itulah tiada henti-hentinya, siang maupun malam, pagi maupun petang, Zakaria terus berdo’a untuk dikarunia anak Apa yang dialami Zakaria, ternyata dialami pula oleh Ibrahim a s. Hal ini bisa dibaca dalam QS. as-Shaffat: 100, yang  berbunyi

Description: Gambar terkait

Artinya:   Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash – Shafaat : 100)[17]


Surah ini mengisahkan tentang  doa Ibrahim agar ia dianugerahi seorang anak. Kalau Zakaria akhirnya dikabulkan Allah dengan dikarunia Yahya, Ibrahimpun dikabulkan Allah dengan dikarunia Ismail.Kedua-duanya, baik Yahya maupun Ismail, dikemudian hari berfungsi sebagai penerus perjuangan ayahnya, kedua-duanya menjadi Nabi utusan Allah. Apa yang menjadi harapan Zakaria dan Ibrahim ini ternyata juga menjadi harapan semua orangtua. Karena memang begitulah yang dinashkan dalam al-Qur’an, bahwa salah satu fitrah manusia, adalah adanya rasa kecintaan dan kerinduan kepada anak.Firman Allah dalam
 QS. Ali Imran: 14,  yang berbunyi
Description: Hasil gambar untuk image surat alimran 14
Artinya:   Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q,S Al – Imran : 14)[18]
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu pada wanita-wanita, anak- anak,...” Dalam ayat yang lain, yaitu QS.Al-Furqan: 74, yang berbunyi :
Description: Hasil gambar untuk image surat AL FURQAN AYAT 74
Artinya:   Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ( QS. Al – Furqan : 74)[19]

 Allah melukiskan bahwa anak keturunan itu sebagai “qurrata a’yun” (penyejuk hati), sedang dalam ayat yang lain lagi
(QS.Al-Kahfi: 46) yang berbunyi :
Description: Hasil gambar untuk image surat al kahfi 46
Artinya:   Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al - Kahfi : 46)[20]

 Pada surah ini digambarkan sebagai “zinatul hayatiddunya” (perhiasan hidup). Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, apa yang dinashkan oleh Al-Quran ini memang benar adanya. Setiap orangtua, betapapun kaya dan tinggi jabatannya, rasanya belum lengkaphidupnya bila belum dikaruniai anak.Hidupnya terasa hambar, sunyi, sepi dan tidak bermakna.Akhirnya, iapun rela berkorban harta untuk periksa keberbagai dokter ahli kandungan, atau bahkan ke dukun-dukun, hanya sekedar untuk memperoleh anak. Disamping itu, peran anak dalam ajaran Islam juga sebagai amal orang tua yang pahalanya tiada putus-putus dan tetap akan mengalir walaupun orangtuanya telah meninggal dunia. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw.dalam sabdanya:

Description: Hasil gambar untuk image hadits terputusnya amal

“Apabila manusia mati, maka putuslah amalnya kecuali dari 3 perkara, yaitu dari shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR Bukhari-Muslim) [21]
Dari hadits di atas, kedudukan anak disamping sebagai pelanjut perjuangan orangtua, pelestari keturunan dan sebagainya, tetapi juga sekaligus sebagai investasi amal bagi orangtuanya yang pahalanya terus menerus tiada henti.Itulah barangkali yang menyebabkan Allah menyebut peristiwa kelahiran anak itu sebagai sesuatu yang menggembirakan.
Dalam QS.Maryam. 7 Allah SWT berfmnan:“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pemah menciptakan orang yang serupa dengan dia”

B.  Proses Perkembangan Individu ( anak ) pada usia 0 – 4 tahun
Menurut Ramayulis, Secara fisik, perkembangan fisik anak selalu berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi ank-anak, adapun perkembangan fisik anak pada usia 0 – 4 tahun akan dijabarkan sebagai berikut:[22]
1)   Proses perkembangan fisik anak pada usia 0-1 tahun. Proses perkembangan usia 0-1 tahun, yaitu (a) meraih benda, (b) bertepuk tangan, dan (c) berjalan sambil berpegangan pada meja.
2)    Proses perkembangan fisik anak pada usia 1-2 tahun. Proses perkembangan usia 0-1 tahun,yaitu (a) berjalan tanpa bantuan, (b) mulai berlari, (c) melambaikan tangan, dan (d) menendan bola.
3)   Proses perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun. Proses perkembangan usia 2-3 tahun, yaitu (a) memanjat, (b) megang pensil seperti menulis, dan (c) mengayuh sepeda roda tiga.
4)   Proses perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun. Proses perkembangan usia 3-4 tahun, yaitu dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki, dan gigi susu sudah lengkap.

C.  Proses Perkembangan Individu ( anak ) pada usia 5 - 12 tahun
Menurut  Zakiyah Drajat, Perkembangan fisik  pada anak usia 5-12 tahun sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyertainya seperti faktor genetik, faktor kesehatan, hingga faktor asupan makanannya. Maka, tidak salah jika setiap anak dengan umum yang sama memiliki perkembangan fisik yang berbeda.[23]
Kondisi pertumbuhan dan perkembangan secara fisik terbagi dalam beberapa fase yaitu pada usia 0-3 tahun dimana pada masa ini akan secara fisik terlihat pendek dan gemuk, pada usia 3-7 tahun fisik anak terlihat lebih langsing dan mulai meninggi, namun pada usia 7-13 tahun anak akan mengalami gemuk kembali.
Secara fungsi fisik anak pada usia 1-3 tahun memusatkan dorongan dan tahanan pada alat pembuahan kotoran, pada usia 3-5 tahun alat kelamin pada anak menjadi organ tubuh yang paling perasa, sedangkan pada usia 5-12 tahun impuls-impuls yang dimiliki anak cenderung dalam kondisi tertekan.
Perkembangan fisik anak usia 5-12 tahun dari tahun ke tahun memiliki perbedaan yang signifikan, apalagi ketika anak sudah memasuki baliqhnya di usia 8 tahun. Maka, fisik semakin berubah. Jika anak 5 tahun masih memiliki tubuh langsing nyaris lurus seperti papan, di usianya yang meningkat besar akan terjadi perubahan di sekitar payudara dan pinggulnya. Untuk anak laki-laki berusia 12 tahun mulai terlihat calon jakun di tenggorokannya.
Perkembangan fisik anak harus terus Anda pantau dan dampingi agar bisa berkembang secara optimal. Beberapa hal yang bisa Anda berikan pada anak untuk tumbuh kembang fisiknya adalah dengan memberikan makanan bergizi seperti buah dan sayur serta daging yang tidak membuatnya berlemak. Anda juga bisa mulai mengajarkan anak beraktifitas aktif untuk mendukung peningkatan fisiknya, misalnya dengan berenang agar tumbuhnya cepat tinggi, bisa juga bermain basket, atau Anda juga melatih anak karate agar ketahanan dan kekuatan fisiknya terjaga.

D.  Perbedaan Perkembangan Keberagamaan Individu Pada Usia 0 – 4 tahun dan 5 – 12 tahun
1.    Anak Pada Usia 0 – 12 tahun
umur 0-4 atau 5 tahun masa kanak-kanak (infancy), tahap ini di dominasi oleh perasaan senang(pleasure) dan tidak senang (pain) dan menggambarkan tahap evolusi yaitu masa manusia masih sama dengan binatang. Umur 5-12 tahun, tahap ini mencerminkan era manusia liar, manusia pengembara dalam evolusi manusia, perasaan-perasaan yang dominan dalam periode ini adalah ingin main-main, lari-lari, loncat-loncat dan sebagainya. Yang pada intinya untuk melatih ketajaman indera dan ketrampilan anggota tubuhnya. [24]

2.    Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks.[25] Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.
Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.[26]

3.    Tahap Perkembangan Keberagamaan Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.    The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.
 2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.

 3. The Individual Stage (Tingkat Individu)
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan berkembang secara benar.[27] Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
a.       Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
b.       Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang  bersifat personal (perorangan).
c.        Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:

a.    Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.

b.    Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.

 c. Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.

 d. Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.[28]

4.    Sifat Agama Pada Anak
Sifat agama pada anak-anak tumbuh megikuti pola ideas konsep on outbrority. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius maksudnya, konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa yang diajarkan oleh orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ketaatan pada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari para orang tua maupun guru mereka. Berdasarkan hal itu maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:
a.    Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekadarnya saja, dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Menurut peneilitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral. Diusia ini pun anak yang kurang cerdas pun menunjukkan pemikiran yang kreatif. Namun demikian, sebelum usia 12 tahun pada anak yang mempunyai ketajaman berpikir akan menimbang pemikiran yang mereka terima dari orang lain. 

b.    Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian piaget tentang bahasa pada anak berusia 3-7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Bagi anak, bahasa tidaklah menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan “monolog” dan “monolog kolektif”, yaitu merupakan bahasa egosentris, bukan sebagai sarana untuk mengomunikasikan gagasan dan informasi, lebih-lebih merupakan pernyataan atau penegasan diri dihadapan orang lain.

c.    Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai “bagaimana” dan “mengapa” biasanya mencermikan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.

d.   Verbalis dan ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat keagamaan, selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka.

e.    Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriyah saja. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.[29]

E.  Tingkat Kesulitan Memahami Perkembangan individu pada usia 0 – 12 Tahun.
Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, ada pola perkembangan yang bersifat umum dan ada yang bersifat individual. Pola perkembangan yang bersifat umum didasarkan atas hasil generalisasi pola perkembanan manusia pada umumnya. Pola perkembangan ini sangat besar manfaatnya bagi upaya penyusunan kurikulum sekolah bagi anak normal atau anak pada umumnya. Pola perkembangan individual berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak lainnya. Pola perkembangan individual sanat bermanfaat bagi upaya penyusunan program pendidikan yang sesuai dengan laju perkembangan tiap anak. [30]
Pola perkembangan umum atau pola perkembangan anak normal dapat dijadikan dasar untuk menentukan anak berkesulitan belajar. Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar disebabkan oleh faktor kematangan. Bertolak dari pandangan semacam itu, mempercepat atau menghambat proses perkembangan dapat menimbulkan masalah belajar. Lingkungan sosial yang berupaya mempercepat proses perkembangan anak dapat menimbulkan kesulitan belajar, begitu pula dengan lingkungan sosial yang tidak memberikan stimulasi terhadap suatu fungsi yang telah matang untuk berkembang.
Bertolak dari aspek psikologi perkembangan, ada dua konsep yang perlu diperhatikan, yaitu kelambatan kematangan dan tahapan-tahapan perkembangan. Berdasarkan dua konsep tersebut, maka perlu dipahami implikasinya bagi upaya penanggulangan kesulitan belajar.


a.    Kelambatan Kematangan
Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar dapat dipandang sebagai kelambatan kematangan fungsi neurologis tertentu. Menurut pandangan ini, tiap individu memiliki laju perkembangan yang berbeda-beda, baik dalam fungsi motorik, konitif, maupun efektif. Oleh karena itu, anak yang memperlihatkan gejala kesulitan belajar tidak selayaknya dipandang sebagai memiliki disfungsi neurologis tetapi sebagai perbedaan laju perkembangan berbagai fungsi tersebut. Konsep keterlambatan kematangan mengantarkan pada suatu pandangan bahwa banyak kesulitan belajar tercipta karena anak didorong atau dipaksa oleh lingkungan sosial untuk mencapai kinerja akademik sebelum mereka siap untuk itu. Menurut Lerner pandangan keterlambatan kematangan didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Silver dan Hagin.[31] 
Hasil penelitian terhadap anak-anak yang diagnosis berkesulitan belajar membaca dan memperoleh pelayanan pendidikan khusus, beberapa tahun kemudian, setelah mereka berusia 16 hingga 24 tahun, banyak diantara mereka yang tidak memperlihatkan kesulitan dalam orientasi ruang, dalam membedakan bunyi-bunyi, dan dalam membedakan kiri-kanan, meskipun pada masa kanak-kanak mereka memperlihatkan adanya problema-problema tersebut. Melalui  proses pematangan, beberapa dari berbagai problema tersebut menghilang, tetapi ada pula yang masih menetap.
Konsep kematangan mengemukakan bahwa penyebab utama kesulitan belajar adalah ketidakmatangan. Implikasi dari teori ini adalah bahwa anak-anak yang lebih muda dan kurang matang dalam suatu tingkat kelas di sekolah akan cenderung mengalami kesulitan belajar yang lebih berat daripada  anak-anak yang lebih tua di kelas tersebut.

b.   Tahapan-tahapan Perkembangan 
Tahapan-tahapan perkembangan yang paling erat kaitannya dengan kesulitan belajar disekolah adalah tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Piaget, sebagai tokoh peneliti perkembangan kognitif sesungguhnya tidak mengemukakan berdasarkan umur. Penahapan perkembangan kognitif yang didasarkan atas umur dilakukan oleh Ginsburg dan Opper dalam Dirgagunarsa, 1981; 123).[32] Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif tersebut adalah (1) tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun) (2) tahap praoperasional (usia 2-7 tahun) (3) tahap konkrit-operasional (usia 7-11 tahun) dan (4) tahap formal-operasional (usia 11 atai lebih).
Secara ringkas, pandangan kematangan didasarkan atas anggapan bahwasemua individu memiliki tahapan-tahapan perkembangan yang alami dan waktu kematangan berbagai keterampilan. Problema belajar pada anak mungkin hanya merupakan suatu keterlambatan dalam perkembangan dari proses tertentu. Ini merupakan hal yang pentin bagi orang yang bertanggungjawab menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak untuk menyadari tahapan-tahapan kematangan dan kelambatan-kelambatan kematangan yang mungkin muncul.

c.    Implikasi Teori Perkembangan bagi Kesulitan Belajar

Suatu implikasi penting dari pendekatan perkembangan kematangan adalah sekolah hendaknya merancang pengalaman belajar untuk mempertinggi kemantapan perkembangan alami. Dalam beberapa hal, lingkungan pendidikan mungkin lebih banyak menghalangi daripada membantu perkembangan anak. Jika sekolah membuat tuntutan intelektual yang melebihi tahapan perkembangan anak, kesulitan belajar mungkin akan terjadi. Tujuan penting dari sekolah seharusnya adalah untuk memperkuat landasan berpikir anak yang dapat menjadi landasan belajar berikutnya.



















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada usia dini.
Melalui penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu: (1) The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng), (2) The Ralistic Stage (tingkat kepercayaan), (3) The individual Stage (tingkat individu)
Adapun faktor yang membentuk anak mulai mengenal dan mendalami agama tak terlepas dari faktor-faktor berikut yaitu : (a) Faktor intern (bawaan)dan  (b) Faktor lingkungan (external) yang keduanya meliputi (1) Lingkungan keluarga (2) Lingkungan sekolah, dan (3) Lingkungan masyarakat.
Adapun Sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas, (1) Unreflective (tidak mendalam)  (2) Egosentris (3) Anthromorphis (4) Verbalis dan Herbalis , dan (5) Rasa heran












DAFTAR PUSTAKA

AlQur’an dan Terjemahnya.2013 Jakarta : CV Karya Insan Indonesia.

Dimas, Muhammad. 2005.Cara Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak. Jakarta: Pustaka
Dirgagunarsa. 1981.Teori Konstruktivis, Jakarta: PT Grafindo Persada, 1981.
Drajat,Djakiyah .2002.Perkembangan Fisik, Intelektual, dan Budi Pekerti, Jakarta: Balai Pustaka.
Hawadi, Rahmad. 2002. Psikologi Perkembangan Pada Anak, Jakarta: Gema Pustaka.
IbnuHa jar Al - Asqalani,1995. Bulughul Maram, Terj. Mahrus Ali,Surabaya:Mutiara Ilmu

Jalaludin. 2009. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia.
Learner, 1998. Learning  Disabilities : Theoris, Diagnosis, and Teaching Strategies. New Jersery: Houghton, Mifflin Company.
Maramis.2004. Ilmu Kedoteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Nasih, Abdullah.1985. Tarbiyatul Auladfil Islam, Beirut: Darussalam.
Prayudha, Dimas.1997Psikologi Perkembangan Anak, Bandung: Pustaka Setia.
Ramayul. 2005. Aspek – Aspek Perkembangan Individu, Jakarta :Grafindo Persada.
Ramayulis. 1994. Pendidikan Agama Bagi Anak. Jakarta: Al – Abrasyi.
Ramayulis. 2004. Psikologi Agama,Jakarta: Kalam Mulia.
Sururin, 2004.Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : PT Grafindo Jaya.
Suryan. 2004. Psikologi Perkembangan Pada Anak. Jakarta : Progras.
Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung:PT Remaja Rosdakarya.







[1]Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2004), hlm.65.
[2]Maramis.Ilmu Kedoteran Jiwa. (Surabaya: Airlangga University Press, 2004), hlm.22 - 23.  
[3]Muhammad Dimas,Cara Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak. (Jakarta: Pustaka Al – Kautsar, 2005),hlm.37.
[4]Ramayulis,Pendidikan Agama Bagi Anak. (Jakarta: Al – Abrasyi,1994), hlm.84.
[5]Suryana,Psikologi Perkembangan Pada Anak. (Jakarta : Progras,2004)hlm.136.
[6]Abdullah Nasih, Tarbiyatul Auladfil Islam, (Beirut: Darussalam, 1985), hlm.167.
[7]Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV Karya Insan Indonesia,2013) hlm. 472.
[8]Al – Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: CV Karya Insan Indonesia,2013),hlm.443.
[9]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 141

[10]Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 443

[11]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 543

[12]Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 328

[13]Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 38

[14]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia , 2013) hlm. 243

[15]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia , 2013 ) hlm. 357

[16]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm. 243

[17]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia,2013) hlm. 356

[18]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta : CV Karya Insan Indonesia,2013) hlm. 38


[19]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm.287
[20]Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Jakarta: CV Karya Insan Indonesia, 2013) hlm.234


[21]Ibnu Hajar Al- Asqalani, Bulughul Maram, Terj. MahrusAli,(Surabaya:Mutiara Ilmu,1995),
hlm.443
[22]Ramayulis,Aspek – Aspek Perkembangan Individu, (Jakarta :Grafindo Persada, 2005),hlm.29.
[23]Zakiyah Drajat,Perkembangan Fisik, Intelektual, dan Budi Pekerti, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm.64.
[24]Rahmad Hawadi,Psikologi Perkembangan Pada Anak, (Jakarta: Gema Pustaka, 2002), hlm.54.
[25]Ramayulis, Psikologi Agama,(Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hlm.34.
[26]Zakiyah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993),hlm.6.
[27]Jalaludin. Psikologi Agama. (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm.66 – 69.
[28]Maramis,Ilmu Kedokteran Jiwa (Surabaya: Airlangga University Press, 1980), hlm. 22 – 23.
[29]Sururin,Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : PT Grafindo Jaya, 2004), hlm.58 – 61.
[30]Dimas Prayudha, Psikologi Perkembangan Anak, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm.92.
[31]Learner,Learning  Disabilities : Theoris, Diagnosis, and Teaching Strategies. (New Jersery: Houghton, Mifflin Company, 1998), hlm.169.
[32]Dirgagunarsa,Teori Konstruktivis, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1981), hlm.123.

3 comments:

  1. The Sands Casino Hotel - SSEPTCasino.com
    The Sands Casino Hotel 샌즈카지노 is หารายได้เสริม a 5-star accommodation featuring more than 800 guest rooms and suites. The resort features two 온카지노 retail areas, restaurants

    ReplyDelete
  2. The best online casinos of 2021
    Read our exclusive guide to the best casinos that accept players from 카지노사이트luckclub Ireland, including their bonuses and free spins offers. Rating: 9/10 · ‎Review by LuckyClub

    ReplyDelete
  3. Pokies at Pokies - The Pro-Am Casino
    Pokies at Pokies is a casino in New Zealand. It's known 포커 칩 for its 배당 토토 high 드래곤타이거 standards, excellent customer 사다리사이트 service and excellent customer service. winwin 토토

    ReplyDelete